« Home | Di Kota Yogyakarta » | Edgware Road » | Yang Diingat Hari Ini » | Merica vs Kemiri » | Kenalan dengan KeduaKakiku »

Ke Jakarta ...

Tigapuluh tahun plus kurang lebih sepuluh bulan yg lalu gw dilahirkan di Jakarta. Di kota itulah kedua orang tua gw dipertemukan. Gw lahir di d/h klinik Budi Kemuliaan yg prosesnya dibantu seorang bidan. Langsung keesokan harinya setelah dilahirkan, gw dibawa ke rumah kontrakan ortu gw di daerah Tanjung Gedong. Tentunya gw belum bisa merasakan aura2 kehidupan perantauan mereka awal2 di di Jakarta, tapi dari cerita2nya sih seru2. Jakarta menjadi saksi banyak hal mula2 dalam hidup gw.

Rumah pertama yg gw kenal adalah rumah dinas Bapa di jl.Zainul Arifin, di daerah Roxy. Di tahun 1980an, Roxy sudah menjadi salah satu sentra bisnis Jakarta. Yg gw maksud sentra bisnis waktu itu selain tampilan bangunan berwajah kantor, juga jejeran toko2 kecil yg beragam dari mulai toko jam tangan, toko kelontong, toko buku maupun pakaian. Di malam minggu, kami sering berjalan kaki menuju tenda2 jajanan malam di sepanjang jl.Roxy untuk sekedar nongkrong di toko buku Metro yg ada di ujung jalan itu. Kalau nilai kami bagus, kami makan sate atau sop kaki yg dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan ini. Selain tenda2 makanan, keberadaan "warung2" obat cina juga menjadi pemandangan yg cukup mencolok di pasar malam itu.

Di mata anak kecil seperti gw saat itu, Jakarta ramah dengan warga kotanya. Rumah kami yg terletak dekat dengan taman kota di belakang kompleks pemadam kebakaran DKI Jakarta tersebut, memberikan keleluasaan buat gw dan teman2 untuk bermain dan bersepeda di tempat itu dengan tenang. Nama yg kami berikan untuk taman ini adalah "lapangan luar", karna di dalam kompleks juga ada "lapangan dalam". Lapangan luar itu lebih luas dan lebih sejuk dibandingkan yg dalam, pepohonannya lebih rimbun dan juga dilengkapi dengan tempat duduk2. Biasanya kami bermain sepeda, petak umpet, main "makan apa", dan main "ular naga" di lapangan luar, "kelompok" bermain gw waktu itu bukan main banyaknya, ada yg kenal karna memang teman sepermainan tapi ada juga yg kenal saat bermain itu aja.

Sedangkan "lapangan dalam" adalah tempat kami biasa bermain galasin (galah asin/gobak sodor), kelereng dan bulutangkis (anak2 biasanya bermain dengan raket kayu sedangkan orang dewasa tentunya dengan raket bulutangkis beneran). Lapangan itu sekali sebulan berubah menjadi bioskop misbar. Itulah sabtu yg ditunggu2, biasanya setelah mandi sore kami segera menyiapkan tempat duduk yaitu kursi yg kami bawa dari rumah masing2. Kebayang gak seh anak usia 6-7 tahun ngangkat2 kursi... hihihi...

Kompleks itu dekat juga dengan sungai Cideng yg tidak pernah meluap apalagi menyebabkan banjir dan tidak "sehitam" saat ini. Pusat pembelajaan yg gw tahu awal2 selain pasar malam Roxy adalah Pasar Baru, ke sanalah biasanya Mama membawa kami membeli baju Natal. Pasar Senen, Pasar Petojo tempat Mama belanja sekali seminggu dan juga Pasar Mayestik tempat Mama dan teman2nya biasa membeli kain.

Tahun 1983, kami sekeluarga pindah ke Cengkareng, waktu itu gw kelas 3 SD. Gw sempat sedih karna kehilangan teman2 bermain di kompleks. Cengkareng di tahun 1980-an masih sepiiiiii banget, seinget gw, waktu SMP lah gw baru mengenal macet di jalan DaanMogot. Mal? Uuuh belum ada tuh. Plaza terdekat dari Cengkareng saat itu adalah Gajah Mada Plaza dan Hayam Wuruk Plaza dan keduanya masih ada saat ini. Dulu ada ayah teman gw, Dewi, yg bekerja di bioskop GM, jadi beberapa kali gw diajak nonton di sana dengan beberapa teman lainnya, tentunya hanya dengan membayar ongkos MetroMini yg waktu itu 100rp untuk pelajar. Kami juga pernah kami naik bajaj (dari Pasar Baru ke Cengkareng!) – ongkos nya saat itu 1500rp saja, itu pun sudah seperti naik taxi saja rasanya.

Tahun 1990, mulailah gw harus bersahabat dengan “keras”nya hidup di Jakarta. Rumah kami yg berada di Cengkareng dengan sekolah di Lapangan Banteng, ditambah dengan jalan DaanMogot yg mulai macet, mengharuskan gw berangkat jam 05.30 dari rumah kalau tidak mau terlambat tiba di sekolah. Bus yg biasa gw tumpangin adalah bus bertingkat PPD nomor 913 atau 26, bayarnya? masih 100rp. Di kedua bus itu, gw sering bertemu dengan anak2 SMA1 alias Budut yg ke sekolah dengan gaya cuek, beberapa nenteng2 gitar (catet: waktu itu tidak ada pengamen di bus). Walaupun mereka katanya sering berantem, tapi di dalam bus mereka cukup ramah dan gak suka bikin ribut - waktu itu! Ada celetukan mereka yg gw gak bisa lupa. Suatu hari gw mau lewat kerumunan mereka dengan berkata "misi dong...", jawabannya "misi kan hari Minggu" (maksudnya film "Little Missy" yg pemainnya disebut Little Missy yg memang diputar setiap hari Minggu siang di TVRI waktu itu. Reseh!

Kalau berangkat ontime, gw akan tiba di sekolah jam 06.10. Kalau terlambat 15 menit "saja", gw akan tiba jam 06.45, tapi kalau (sangat terlambat) berangkat jam 06.00, gw akan tiba di sekolah jam 07.30-07.45 dan bersiap2 untuk tidak ikut jam pelajaran pertama. Huuuuuhhhhh, menyebalkan! Selepas SMA, gw pindah ke Bandung dan merasakan betapa heningnya Bandung dibandingkan Jakarta saat itu, tahun 1993.

Sekarang?
Jakarta telah berubah. Wajahnya tidak lagi ramah. Sumpek. Macet gak ketulungan. Panas. Kriminalitas tinggi. Semrawut. Muka ditekuk. Semua ciri2 kota besar sebuah negara berkembang tidak luput juga menjadi ciri2 Jakarta. Walau demikian, sangat banyak orang yg memupuk harapan untuk hidup lebih baik di Jakarta dengan pertaruhan dan pergelutan sehari2 yg sangat berat. Lagu "Lenggang Lenggok Jakarta" yg dinyanyikan Andi Meriem Matalata dapat merepresentasikan dengan baik kondisi Jakarta buat para perantauan.

Jakarta, di sanalah gw dilahirkan, di sebuah klinik yg saat ini berada di jantung kota tersebut. Di sanalah gw dibesarkan selama 17 tahun. Monas, Gambir, terminal2 bus, Pasar BlokM, Pasar Baru, Pasar Senen menjadi tempat2 dimana gw sering menjejakkan keduakakiku saat kecil. Saat ini kedua ortu gw udah pindah ke Utankayu sejak 1994. Dg lokasi yg cukup strategis dengan trayek angkutan kota ini menyebabkan perjalanan menjadi mudah dan kemana saja rasanya dekat dibandingkan waktu di Cengkareng dulu. Selain Pasar Senen yg tetap menjadi pasar favorit Mama berbelanja, banyak lagi mal2 dan plaza2 modern juga menjadi "hiking" palace, jogging track dan tempat berolahraga batin bagi keduakakiku ini.

Bulan September nanti, kalau tidak ada aral melintang lagi, gw akan kembali tinggal di sana setelah hampir 13 tahun tidak menetap lama di kota itu.

di sana rumahku dalam kabut biru
hatiku sedih di hari minggu
di sana kasihku berdiri menunggu
di batas waktu yang telah tertentu
ke Jakarta aku kan kembali
walaupun apa yang kan terjadi
(Kembali Ke Jakarta - koes.ploes)


Rute PPD 913: Terminal Kalideres - DaanMogot - Grogol - Roxy - Petojo - Harmoni - Pasar Baru - Lapangan Banteng - Medan Merdeka Selatan - Gunung Mulia - lalu muter di depan TB.Gunung Mulia - melalui rute yg sama kembali ke Terminal Kalideres.
Rute PPD 26: Terminal Kalideres - DaanMogot - Grogol - Roxy - Petojo - Harmoni - Pasar Baru - Terminal Senen - melalui rute yg sama kembali ke Terminal Kalideres.

Ke Jakarta aku kan kembali... ii... ii...
Selamat ulang tahun kota kelahiranku.
Ada harapan yg gw tumpukan untuk bisa menjadi warga kota yg baik.
Tunggu aku di Jakarta!

About me

  • I'm a.r.t.h.a

  • I am a kind of person who likes many things and stubborn enough to pursue things I like much.

    One said, "Artha, you are a Maverick"
My profile
  • Unless otherwise stated, pictures in this blog are  artha

Archives