Wednesday, July 05, 2006

Intermezzo

Secara tadi malam dengar di radio "bursa efek New York tutup sehubungan dengan forth of July", gw sebenarnya mo nulis tentang Houston - kota dimana gw pernah tinggal selama 2+ tahun.
Tapi, waktu senggang gw lagi kepake tidur dan latihan tennis meja buat petrocup, termasuk ngupdate blog yg atunya lagi (abiss, banyak things going on sih) jadi ntar yah...

and for my American friends,
though I don't like your foreign policies,
I still miss y'all !

Thursday, June 22, 2006

Ke Jakarta ...

Tigapuluh tahun plus kurang lebih sepuluh bulan yg lalu gw dilahirkan di Jakarta. Di kota itulah kedua orang tua gw dipertemukan. Gw lahir di d/h klinik Budi Kemuliaan yg prosesnya dibantu seorang bidan. Langsung keesokan harinya setelah dilahirkan, gw dibawa ke rumah kontrakan ortu gw di daerah Tanjung Gedong. Tentunya gw belum bisa merasakan aura2 kehidupan perantauan mereka awal2 di di Jakarta, tapi dari cerita2nya sih seru2. Jakarta menjadi saksi banyak hal mula2 dalam hidup gw.

Rumah pertama yg gw kenal adalah rumah dinas Bapa di jl.Zainul Arifin, di daerah Roxy. Di tahun 1980an, Roxy sudah menjadi salah satu sentra bisnis Jakarta. Yg gw maksud sentra bisnis waktu itu selain tampilan bangunan berwajah kantor, juga jejeran toko2 kecil yg beragam dari mulai toko jam tangan, toko kelontong, toko buku maupun pakaian. Di malam minggu, kami sering berjalan kaki menuju tenda2 jajanan malam di sepanjang jl.Roxy untuk sekedar nongkrong di toko buku Metro yg ada di ujung jalan itu. Kalau nilai kami bagus, kami makan sate atau sop kaki yg dengan mudah ditemukan di sepanjang jalan ini. Selain tenda2 makanan, keberadaan "warung2" obat cina juga menjadi pemandangan yg cukup mencolok di pasar malam itu.

Di mata anak kecil seperti gw saat itu, Jakarta ramah dengan warga kotanya. Rumah kami yg terletak dekat dengan taman kota di belakang kompleks pemadam kebakaran DKI Jakarta tersebut, memberikan keleluasaan buat gw dan teman2 untuk bermain dan bersepeda di tempat itu dengan tenang. Nama yg kami berikan untuk taman ini adalah "lapangan luar", karna di dalam kompleks juga ada "lapangan dalam". Lapangan luar itu lebih luas dan lebih sejuk dibandingkan yg dalam, pepohonannya lebih rimbun dan juga dilengkapi dengan tempat duduk2. Biasanya kami bermain sepeda, petak umpet, main "makan apa", dan main "ular naga" di lapangan luar, "kelompok" bermain gw waktu itu bukan main banyaknya, ada yg kenal karna memang teman sepermainan tapi ada juga yg kenal saat bermain itu aja.

Sedangkan "lapangan dalam" adalah tempat kami biasa bermain galasin (galah asin/gobak sodor), kelereng dan bulutangkis (anak2 biasanya bermain dengan raket kayu sedangkan orang dewasa tentunya dengan raket bulutangkis beneran). Lapangan itu sekali sebulan berubah menjadi bioskop misbar. Itulah sabtu yg ditunggu2, biasanya setelah mandi sore kami segera menyiapkan tempat duduk yaitu kursi yg kami bawa dari rumah masing2. Kebayang gak seh anak usia 6-7 tahun ngangkat2 kursi... hihihi...

Kompleks itu dekat juga dengan sungai Cideng yg tidak pernah meluap apalagi menyebabkan banjir dan tidak "sehitam" saat ini. Pusat pembelajaan yg gw tahu awal2 selain pasar malam Roxy adalah Pasar Baru, ke sanalah biasanya Mama membawa kami membeli baju Natal. Pasar Senen, Pasar Petojo tempat Mama belanja sekali seminggu dan juga Pasar Mayestik tempat Mama dan teman2nya biasa membeli kain.

Tahun 1983, kami sekeluarga pindah ke Cengkareng, waktu itu gw kelas 3 SD. Gw sempat sedih karna kehilangan teman2 bermain di kompleks. Cengkareng di tahun 1980-an masih sepiiiiii banget, seinget gw, waktu SMP lah gw baru mengenal macet di jalan DaanMogot. Mal? Uuuh belum ada tuh. Plaza terdekat dari Cengkareng saat itu adalah Gajah Mada Plaza dan Hayam Wuruk Plaza dan keduanya masih ada saat ini. Dulu ada ayah teman gw, Dewi, yg bekerja di bioskop GM, jadi beberapa kali gw diajak nonton di sana dengan beberapa teman lainnya, tentunya hanya dengan membayar ongkos MetroMini yg waktu itu 100rp untuk pelajar. Kami juga pernah kami naik bajaj (dari Pasar Baru ke Cengkareng!) – ongkos nya saat itu 1500rp saja, itu pun sudah seperti naik taxi saja rasanya.

Tahun 1990, mulailah gw harus bersahabat dengan “keras”nya hidup di Jakarta. Rumah kami yg berada di Cengkareng dengan sekolah di Lapangan Banteng, ditambah dengan jalan DaanMogot yg mulai macet, mengharuskan gw berangkat jam 05.30 dari rumah kalau tidak mau terlambat tiba di sekolah. Bus yg biasa gw tumpangin adalah bus bertingkat PPD nomor 913 atau 26, bayarnya? masih 100rp. Di kedua bus itu, gw sering bertemu dengan anak2 SMA1 alias Budut yg ke sekolah dengan gaya cuek, beberapa nenteng2 gitar (catet: waktu itu tidak ada pengamen di bus). Walaupun mereka katanya sering berantem, tapi di dalam bus mereka cukup ramah dan gak suka bikin ribut - waktu itu! Ada celetukan mereka yg gw gak bisa lupa. Suatu hari gw mau lewat kerumunan mereka dengan berkata "misi dong...", jawabannya "misi kan hari Minggu" (maksudnya film "Little Missy" yg pemainnya disebut Little Missy yg memang diputar setiap hari Minggu siang di TVRI waktu itu. Reseh!

Kalau berangkat ontime, gw akan tiba di sekolah jam 06.10. Kalau terlambat 15 menit "saja", gw akan tiba jam 06.45, tapi kalau (sangat terlambat) berangkat jam 06.00, gw akan tiba di sekolah jam 07.30-07.45 dan bersiap2 untuk tidak ikut jam pelajaran pertama. Huuuuuhhhhh, menyebalkan! Selepas SMA, gw pindah ke Bandung dan merasakan betapa heningnya Bandung dibandingkan Jakarta saat itu, tahun 1993.

Sekarang?
Jakarta telah berubah. Wajahnya tidak lagi ramah. Sumpek. Macet gak ketulungan. Panas. Kriminalitas tinggi. Semrawut. Muka ditekuk. Semua ciri2 kota besar sebuah negara berkembang tidak luput juga menjadi ciri2 Jakarta. Walau demikian, sangat banyak orang yg memupuk harapan untuk hidup lebih baik di Jakarta dengan pertaruhan dan pergelutan sehari2 yg sangat berat. Lagu "Lenggang Lenggok Jakarta" yg dinyanyikan Andi Meriem Matalata dapat merepresentasikan dengan baik kondisi Jakarta buat para perantauan.

Jakarta, di sanalah gw dilahirkan, di sebuah klinik yg saat ini berada di jantung kota tersebut. Di sanalah gw dibesarkan selama 17 tahun. Monas, Gambir, terminal2 bus, Pasar BlokM, Pasar Baru, Pasar Senen menjadi tempat2 dimana gw sering menjejakkan keduakakiku saat kecil. Saat ini kedua ortu gw udah pindah ke Utankayu sejak 1994. Dg lokasi yg cukup strategis dengan trayek angkutan kota ini menyebabkan perjalanan menjadi mudah dan kemana saja rasanya dekat dibandingkan waktu di Cengkareng dulu. Selain Pasar Senen yg tetap menjadi pasar favorit Mama berbelanja, banyak lagi mal2 dan plaza2 modern juga menjadi "hiking" palace, jogging track dan tempat berolahraga batin bagi keduakakiku ini.

Bulan September nanti, kalau tidak ada aral melintang lagi, gw akan kembali tinggal di sana setelah hampir 13 tahun tidak menetap lama di kota itu.

di sana rumahku dalam kabut biru
hatiku sedih di hari minggu
di sana kasihku berdiri menunggu
di batas waktu yang telah tertentu
ke Jakarta aku kan kembali
walaupun apa yang kan terjadi
(Kembali Ke Jakarta - koes.ploes)


Rute PPD 913: Terminal Kalideres - DaanMogot - Grogol - Roxy - Petojo - Harmoni - Pasar Baru - Lapangan Banteng - Medan Merdeka Selatan - Gunung Mulia - lalu muter di depan TB.Gunung Mulia - melalui rute yg sama kembali ke Terminal Kalideres.
Rute PPD 26: Terminal Kalideres - DaanMogot - Grogol - Roxy - Petojo - Harmoni - Pasar Baru - Terminal Senen - melalui rute yg sama kembali ke Terminal Kalideres.

Ke Jakarta aku kan kembali... ii... ii...
Selamat ulang tahun kota kelahiranku.
Ada harapan yg gw tumpukan untuk bisa menjadi warga kota yg baik.
Tunggu aku di Jakarta!

Wednesday, June 07, 2006

Di Kota Yogyakarta

Pagi ini gw merasakan suatu rasa yg disebut dengan campuran rasa syukur sekaligus senang saat bertemu (kembali) dengan salah seorang teman yg baru saja masuk kantor lagi setelah rumahnya ambruk akibat bencana gempa Yogya tanggal 27 Mei y.l.

Yah, Yogya menyimpan banyak kenangan dalam perjalanan keduakakiku ini. Sepanjang jalan2 kenangan di kota itu, kami sudah pernah lewati dengan berjalan kaki, dengan mengendarai sepeda, dibonceng sepeda motor, dalam sebuah bangku becak yg sempit, dengan delman maupun dengan taksi atau pun mobil.

Gw udah ke Yogya sebelum ada mal di kota itu :-) Pengenalan gw akan Yogya dimulai tahun 1985 saat kami berdarmawisata ke kota itu bersama2 dengan keluarga lainnya di tempat bapa bekerja. Yang gw inget saat itu adalah candi borobudur, prambanan, jalan malioboro, pasar beringharjo, gudeg, burung dara goreng dan bakpia patok. Pengenalan akan kota ini pun terus bertambah seiring dengan bertambahnya wawasan lewat membaca maupun cerita teman2 yg berasal dari daerah ini. Tentu juga dengan kembali mengunjungi dan menikmati kota ini sejalan dengan usianya dan dengan cara pandang yg berbeda.

Ada satu catatan perjalanan singkat masa kuliah yg mengesankan (tentunya...hehehe). Waktu itu dengan modal seadanya, kami naik kereta senja utama dan tiba di kota ini setelah bauk apek dan tidur beralas koran di kelas ekonomi. Tadinya udah semangat banget mau cari tumpangan di peron makan, tapi, apa boleh buat, ternyata udah banyak orang2 kuat lainnya yg mendahului. Jadi, kalau mau naek senja utama cara murah meriah, kudu pede lah bersaing :-)

Setibanya di Yogya pagi itu, kami makan soto di stasiun. Lalu kami berjalan menyusuri pasar kembang, lalu belok kiri ke terusannya malioboro dan berhenti di sebuah toko buku kecil di ujung jalan itu. Tanpa menunggu lama, kami langsung masuk dan mulai membaca. Mata gw bertumbukan dengan sebuah buku dengan ejaan yg tidak gw mengerti, setelah gw baca, ternyata buku itu menggunakan ejaan indonesia lama dan masih kental campuran bahasa jawa. (toko buku itu masih ada lho sampai sekarang - waktu itu di toko itu banyak buku2 teknik tempo dulu dan sekarangnya saat itu - lumayan lho, tapi belum kesana lagi, mana tahu udah jadi chicklit ....weeee)

Setelah cukup puas membaca, muncullah niat untuk main ke Parangtritis, nah tapi kan duit cekak, jadi rencananya kami mau ngompreng aja... huhhh dasar! Tapi pas makan siang, yg ada malah ide untuk nyewa motor (kontradiktif gak seeeh). Nah, ide gilanya muncul saat kami makan siang di suatu warung sate di daerah yg dekat stasiun (you know where lah). Nah, si mbok pemilik warung itu juga menyewakan motor. Saat kami makan, si mbok cerita2 dan kami pun memperkenalkan diri sebagai mahasiswa dari kota B, ternyata dia punya kenalan dan ternyata (juga) teman gw itu kenal dengan orang yg disebut si mbok (what a small world!). Yang ada si mbok ini senang banget dan saat kami bertanya tentang sewa motor, malahan kami dipinjamin motornya "hanya" dengan menitipkan KTM - kartu tanda mahasiswa - yg gw pikir sebenarnya juga bisa aja gak ditebus... hehehe...

Bremm bremmm bremm ... perjalanan bermotor ria menyusuri jalan raya parangtritis berlanjut. Sesampainya di pantai parangtritis, kami hanya duduk dan saling bercerita, bermain air lalu keliling2 pantai naik motor... Sudah, begitu aja. Sore itu juga kami kembali ke Yogya, naik kereta Senja Utama dan pulang ke Bandung.

Banyak hal yg bisa gw nikmatin di Yogya dan gempa can't stop me to enjoy being there someday. Gw akan mengunjunginya kembali dengan banyak alasan. Contohnya yg satu ini, saat teman baikku menikah dan masih akan banyak alasan2 lainnya kalau Tuhan mengijinkan gw mau ke sana lagi. Buat mereka yg tertimpa bencana, sungguh ini sudah kehendakNya. Gw kenal mereka yg tetap tersenyum dan senyum itu tidaklah asing. Tetap semangat, teman!

Edgware Road

Tadi malam ada film Dirty War di HBO. Film fiksi ini bercerita seputar aksi "yg disebut teroris" di kota London. Dalam salah satu adegannya, ada pertemuan 2 orang yg dilakonkan di sebuah kafe di Edgware Road di London.

Hmmm. keduakakiku pernah kesitu tuh :-)
Yang paling baru di tahun 2004 y.l gw nginep di Hotel Hilton di jalan tersebut. Hotel ini terletak kira2 100m di depan exit Edgware Road Tube station kalo pake meterannya gw, pokoknya begitu keluar dari underground yg arah edgware, jalan aja lurus nanti sebelah kanannya ada marks and spencer nah hotelnya di seberangnya M&S itu. Satu hal yg gak terlupakan dari hotel ini adalah makan paginya yg lengkap banget, walaupun banyak hotel2 lainnya yg kayak gini juga... hehehe... (baca: gw emang doyan makan!).

Edgware Road dan sekitarnya ini terkenal sebagai daerah London yg menjadi pusat "kehidupan" orang2 middle-eastern, gak heran kalau segala macam hal2 berbau2 middle-eastern dapat dijumpai dengan mudah di sepanjang resto2 maupun toko2 di sepanjang jalan ini. Kalau ktia menyusuri jalan ini, resto2 dan toko2 di kiri kanan jalan akan mempunyai nama atau pun menyajikan hal2 yg menjadi ciri khas daerah ataupun salah satu negara di asia tengah itu. Gw sendiri sebenarnya belum pernah tinggal di daerah middle east, kecuali transit dan itu pun di airport aja. Nah, kalau masuk aja ke salah satu bar di daerah ini rasanya seperti di dunia lain. Ya musiknya, ya bau2-annya, ya makanannya, semuanya berasa beda aja apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa gak serasa di London bo tapi serasa di middle east aja :-)

Strolling di Edgware Road menjadi pilihan di suatu pagi bersama dengan dua orang teman yg waktu itu baru pertama kali ke London. Menyenangkan! Secara London waktu itu menjelang musim panas, berjalan menikmati window shopping yg toko2nya belum buka sambil menikmati matahari pagi yg gak panas dan melihat2 dedaunan yg mulai menghijau kembali, sungguh suatu pengalaman yg menyenangkan. Buat gw London itu menjadi sangat menyenangkan saat gw bisa ambil waktu untuk tidak naik underground melainkan berjalan... dan berjalan... dan berjalan... tentu bukan di tempat2 yg berpolusi tinggi, melainkan di taman2nya, di suburbnya ataupun di pasar tradisionalnya... :)

Di suatu saat yg lain lagi, gw strolling di Edgware road ini dengan seorang teman yg berasal dari Arab Saudi. Tentu dia sudah sering jalan di tempat ini. Saat itu dia mengajak ke bar sisha. Memang di sepanjang jalan Edgware road ini terdapat beberapa resto ataupun bar shisha, yaitu "merokok" pipa ala middle-easterners. Bau semerbak aroma shisha sangat kental, yaitu bau harum, seperti campuran apple, orange, melati dan juga buah2an atau daun lainnya. Pada malam hari di trotoar jalan ini, para pejalan kaki selain dimanjakan oleh bebauan khas shisha juga dapat menikmati "pemandangan" indah. Di malam hari sepanjang jalan tersebut mudah dijumpai pemuda pemudi keturunan middle-eastern yg kebanyakan berkulit putih dengan mata dalam dan alis tebal sedang berjalan2 ataupun sekedar duduk2 di bangku bar. Umumnya mereka berpenampilan modis. Waktu gw disana kebetulan banyak di antara mereka menggunakan jaket kulit hitam sehingga membuat tampilan kulit putih mereka menonjol dengan kontras yg menarik. Gw sih nikmatin banget melihat ras yg dikaruniai kecantikan yg khas itu yg berbeda dengan kecantikan ala asia lainnya. Senang aja.


Waktu itu untuk pertama kalinya gw ke bar model beginian. Pernah waktu jalan di Leeds dulu, teman2 kursus ngajakin ke bar ginian, tapi karna gak dapet tempat yah gak jadi. Awalnya gw gak mau nyobain dengan alasan sisha kan mirip2 aja ama merokok. Terus mereka nyodorin brosur kalau sisha itu tanpa tembakau. Setelah membacanya dan mulai deh ada temptation "nyobain ah", gw nyobain menghirup (atau merokok?) shisha rasa apple. Gak batuk2 sih, cuman yah asa asa aneh aja. Eh, pas gw selesai, pada bersorak sorai tuh anak Arab, gw celingak celinguk eh meja tetangga juga ikutan bersorak sorai... hahaha, jadi ramai. Tampang gw kan bener2 gak middle-eastern, jadi mereka nepokin courage gw kali yeeee (hehehe). Yg penting buat temen2 gw, setelah itu kita dikasih dua kali refill gratis... dasar! walaupun setelah itu gw sih nikmatin calamary dan musiknya aja lah sambil ngobrol tentunya.

London, salah satu kota singgah yg gw senengin walaupun gw gak pernah tinggal di situ lebih lama dari tiga minggu, namun yah kenangan hampir di tiap sudutnya yg gw nikmatin tidak terlupakan. London juga menjadi pilihan gw merayakan ulang tahun di tahun 2004 daripada di Paris sendirian - segitunya... hehehe.

Someday pasti akan ada bagian lain dari kota ini yg gw ceritain di blog ini. Setuju banget dengan banyak orang yg menyatakan bahwa London is not just a big ben... that's damn rite.

Monday, June 05, 2006

Yang Diingat Hari Ini

Katanya tanggal 5 Juni ini adalah Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Memang lingkungan yg dimaksud disini adalah alam sekitar manusia, yaitu segala sesuatunya selain manusia kali yee :-) Di Indonesia sendiri Perayaan HLHS tahun 2006 ini bertema "CEGAH BENCANA LINGKUNGAN"

Melestarikan hutan menjadi tanggung jawab bersama tentunya... ah, susah deh ngomongnya, karna hal ini mengingatkan gw akan perjalanan ke Melak yg melalui hutan Kalimantan yg mulai gersang. Dalam perjalanan menuju kesana, gw nemuin beberapa tempat yg memang sengaja dibakar... *duh, manusia kata sang pohon*


Air yg adalah salah satu sumber kehidupan, di Balikpapan pun mulai susah. Hutan mulai gundul tentunya resapan air pun buruk. Penduduk bertambah namun usaha menjaga alam kalah cepat. Air dalam aqua botol ini menjadi "sang dewa" penyambung perjalanan... *duh, manusia kata sang air*

Bulan Maret 2005 yang lalu, gw dengan dua orang teman melakukan perjalanan ke Melak, sebuah kota kabupaten di daerah Kalimantan Timur. Keduakakiku menjelajah titik terbarat perjalanan ini tepatnya di Barongtongkok yg tak lain adalah daerah "hill-side"nya sungai Mahakam.

Sekilas catatan perjalanan bisa dibaca di sini: Melak, sedangkan beberapa foto perjalanan maupun beberapa floranya bisa dilihat di sini... (walau masih belom jago euy ngeposting foto2 :-)

Friday, June 02, 2006

Merica vs Kemiri


Tadi malam di resto Roemah Kopi gw bertemu dengan dua wanita muda yg semangat banget menanyakan perjalanan gw ke Lombok long weekend kemaren... wah, Neng Neng, mbak ini masih belum bisa menuliskan semua catatan perjalanannya disana (maap, punten... eksyus pissaaannn...)

Dengan penuh semangat ingin berlibur, salah seorangnya bertanya "Kakak nginep di Novotel yah?", gw jawab enggak terus gw nambahin, "kalo mo males2an (apalagi honeymoon), yah nginep disana sih great idea (apalagi kalo budget gak jadi masalah yaa... catet!). kalo memang mau ke Lombok dan belum pernah kesana, yah emang sih kudu kesana, pasirnya kayak merica..."

Sontak mereka berdua ketawa, walaupun sebenarnya cerita gw belum selesai. Neng satunya bilang "Tuuu, kalo kayak merica sih gw percaya, tapi kalo kayak kemiri mah gw gak percaya, kemiri kan segede2 batu..."
Rada binun juga sih gw sepersekian detik, untung segera ada penjelasan berikutnya :-) Ternyata, Neng-A "mempromosikan" pantai itu ke Neng-B dengan pernyataan di pantai itu pasirnya beda dari pasir biasanya, dia bilang pasirnya sebesar kemiri.

Wah merica vs kemiri mah bedanya lumayan significant 'neng, walaupun sebenarnya kalo dilihat2 kasat mata, pasir di pantai Kuta Lombok itu lebih mirip ketumbar deh ...
hahaha, kami pun tertawa bersama

Catatan perjalanannya akan dicicil perlahan2 tapi pasti.... :-)

Perjalanan keduakakiku keduakalinya ke Lombok ini sangat berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Terima kasih kepada Pak Nur Ichsan yg telah menyiapkan (hampir) segala sesuatunya yg membuat perjalanan ini menjadi mudah, walaupun kami tidak mengikuti itenary yg biasa namun tetap dilayani dengan baik. Tentu tak lupa juga mas Mul, seorang guide yg sangat "hidup".

Pantai Kuta di Lombok ini dapat ditempuh dengan mobil dengan waktu tempuh 1.5 jam perjalanan dari Mataram - itu kalau langsung. Dalam perjalanan ini, kami singgah dahulu melihat2 mutiara, kerajinan tanah liat di Banyumulek, kerajinan tenun di Sukarara dan singgah di kampung suku Sasak di Sade. Saat kami tiba di pantai Kuta ini, matahari sudah hampir tenggelam sehingga menyisakan tidak terlalu banyak pesona air laut biru turquoise kebanggaan pantai ini .

Foto2 di atas di Pantai Kuta Lombok, 25 Mei 2006 bersama Mia, Ita & Dheny.

Thursday, June 01, 2006

Kenalan dengan KeduaKakiku


kau seperti nyanyian dalam hatiku yang memanggil rinduku padamu...
seperti udara yang kuhela kau selalu ada....

bisa membuatku tenang...
tanpamu aku merasa hilang...
dan sepi...

(edited OST-Dealova song, Once)

Foto keduakakiku ini diambil dengan sangat mudah dan air yg terlihat sangat jernih lengkap dengan refleksi sinar matahari itu adalah air laut di pulau putri, salah satu pulau dari gugusan pulau seribu di Laut Jawa (a.k.a Taman Nasional Kepulauan Seribu). Abrasi pantai membuat sang empunya pulau memagari pulau2 tersebut supaya masih bisa dinikmati dan tidak terhilang at least untuk beberapa tahun ke depan. Saya duduk di pagar itu dengan keduakakiku kebawah seperti dalam foto. Setelah duduk sebentar dan moto2, kedua kaki itu melepaskan sandalnya dan menginjakkan kaki ke dalam kehangatan air yg langsung disambut pasir putih yg halus dan hangat....

Sayangnya, belum lama berjalan menyusuri "pantai" berair dengan kaki telanjang, tiba2 ada yg bilang dengan sedikit teriak "hati-hati bulu babi 'mbak...", akhirnya perjalanan pun tidak bisa terlalu jauh, tapi dengan senangnya segera saja peralatan snorkeling diambil dan.... byurrrr byurrrr...

About me

  • I'm a.r.t.h.a

  • I am a kind of person who likes many things and stubborn enough to pursue things I like much.

    One said, "Artha, you are a Maverick"
My profile
  • Unless otherwise stated, pictures in this blog are  artha

Archives