Di Kota Yogyakarta
Pagi ini gw merasakan suatu rasa yg disebut dengan campuran rasa syukur sekaligus senang saat bertemu (kembali) dengan salah seorang teman yg baru saja masuk kantor lagi setelah rumahnya ambruk akibat bencana gempa Yogya tanggal 27 Mei y.l.Yah, Yogya menyimpan banyak kenangan dalam perjalanan keduakakiku ini. Sepanjang jalan2 kenangan di kota itu, kami sudah pernah lewati dengan berjalan kaki, dengan mengendarai sepeda, dibonceng sepeda motor, dalam sebuah bangku becak yg sempit, dengan delman maupun dengan taksi atau pun mobil.
Gw udah ke Yogya sebelum ada mal di kota itu :-) Pengenalan gw akan Yogya dimulai tahun 1985 saat kami berdarmawisata ke kota itu bersama2 dengan keluarga lainnya di tempat bapa bekerja. Yang gw inget saat itu adalah candi borobudur, prambanan, jalan malioboro, pasar beringharjo, gudeg, burung dara goreng dan bakpia patok. Pengenalan akan kota ini pun terus bertambah seiring dengan bertambahnya wawasan lewat membaca maupun cerita teman2 yg berasal dari daerah ini. Tentu juga dengan kembali mengunjungi dan menikmati kota ini sejalan dengan usianya dan dengan cara pandang yg berbeda.
Ada satu catatan perjalanan singkat masa kuliah yg mengesankan (tentunya...hehehe). Waktu itu dengan modal seadanya, kami naik kereta senja utama dan tiba di kota ini setelah bauk apek dan tidur beralas koran di kelas ekonomi. Tadinya udah semangat banget mau cari tumpangan di peron makan, tapi, apa boleh buat, ternyata udah banyak orang2 kuat lainnya yg mendahului. Jadi, kalau mau naek senja utama cara murah meriah, kudu pede lah bersaing :-)
Setibanya di Yogya pagi itu, kami makan soto di stasiun. Lalu kami berjalan menyusuri pasar kembang, lalu belok kiri ke terusannya malioboro dan berhenti di sebuah toko buku kecil di ujung jalan itu. Tanpa menunggu lama, kami langsung masuk dan mulai membaca. Mata gw bertumbukan dengan sebuah buku dengan ejaan yg tidak gw mengerti, setelah gw baca, ternyata buku itu menggunakan ejaan indonesia lama dan masih kental campuran bahasa jawa. (toko buku itu masih ada lho sampai sekarang - waktu itu di toko itu banyak buku2 teknik tempo dulu dan sekarangnya saat itu - lumayan lho, tapi belum kesana lagi, mana tahu udah jadi chicklit ....weeee)
Setelah cukup puas membaca, muncullah niat untuk main ke Parangtritis, nah tapi kan duit cekak, jadi rencananya kami mau ngompreng aja... huhhh dasar! Tapi pas makan siang, yg ada malah ide untuk nyewa motor (kontradiktif gak seeeh). Nah, ide gilanya muncul saat kami makan siang di suatu warung sate di daerah yg dekat stasiun (you know where lah). Nah, si mbok pemilik warung itu juga menyewakan motor. Saat kami makan, si mbok cerita2 dan kami pun memperkenalkan diri sebagai mahasiswa dari kota B, ternyata dia punya kenalan dan ternyata (juga) teman gw itu kenal dengan orang yg disebut si mbok (what a small world!). Yang ada si mbok ini senang banget dan saat kami bertanya tentang sewa motor, malahan kami dipinjamin motornya "hanya" dengan menitipkan KTM - kartu tanda mahasiswa - yg gw pikir sebenarnya juga bisa aja gak ditebus... hehehe...
Bremm bremmm bremm ... perjalanan bermotor ria menyusuri jalan raya parangtritis berlanjut. Sesampainya di pantai parangtritis, kami hanya duduk dan saling bercerita, bermain air lalu keliling2 pantai naik motor... Sudah, begitu aja. Sore itu juga kami kembali ke Yogya, naik kereta Senja Utama dan pulang ke Bandung.
Banyak hal yg bisa gw nikmatin di Yogya dan gempa can't stop me to enjoy being there someday. Gw akan mengunjunginya kembali dengan banyak alasan. Contohnya yg satu ini, saat teman baikku menikah dan masih akan banyak alasan2 lainnya kalau Tuhan mengijinkan gw mau ke sana lagi. Buat mereka yg tertimpa bencana, sungguh ini sudah kehendakNya. Gw kenal mereka yg tetap tersenyum dan senyum itu tidaklah asing. Tetap semangat, teman!